Mengenal Karet Dilatasi Pada Bangunan

Ketika melintasi jalan beton, pernahkah Anda memperhatikan adanya sambungan di antara bidang-bidang jalan?  Sambungan tersebut ada yang dibuat dari aspal, karet, atau bahan lain yang lebih lunak.  Sambungan tersebut dinamakan dilatasi atau siar muai, atau expansion joint. Kita menemukan expansion joint pada jalan beton, jembatan, tembok, lantai, fondasi, atap beton atau paving block.

Mungkin Anda bertanya-tanya, mengapa badan jalan, jembatan, dan tembok, harus ‘dipotong-potong’ dan disambung dengan dilatasi atau expansion joint?

Beton merupakan bahan keras dan kaku, sehingga tidak dapat ditekuk atau diregangkan tanpa mengalami kegagalan. Repotnya, pada bangunan, beton selalu memuai dan menyusut karena perubahan suhu atau gerakan di sekitarnya. Untuk memberi ruang memuai dan menyusut, bangunan dihubungkan dengan dilatasi. Tanpa dilatasi, bangunan menghadapi risiko pecah atau  retak yang merusak.

Dilatasi harus dirancang dan dibuat secara cermat untuk memberi hasil maksimal. Dilatasi yang baik memiliki karakteristik sebagai berikut:

  • Memungkinkan kontraksi dan ekspansi karena panas tanpa menimbulkan kerusakan pada struktur bangunan.
  • Menyerap getaran karena pergerakan tanah akibat gempa bumi atau penurunan tanah.
  • Mampu menahan tekanan

Bahan untuk dilatasi cukup beragam seperti aspal (untuk jalan atau jembatan beton,), karet (untuk jalan dan jembatan, dinding, lantai, dan fondasi), kain, dan logam. Meskipun demikian bahan yang paling banyak digunakan adalah karet. Dilatasi yang dibuat dari karet disebut karet dilatasi, rubber expansion joint atau elastomeric expansion joint.

Ada beberapa keunggulan dari dilatasi yang terbuat dari karet.

Pertama, memiliki fleksibilitas tinggi, karet memiliki daya rentang kontraksi tertinggi dari bahan lain.

Kedua, instalasi cukup sederhana. Karet dilatasi dapat dirancang dan dibuat sesuai dengan ukuran, dimensi, dan spesifikasi bangunan. Ketika bangunan sudah siap, tinggal dipasang.

Ketiga, memudahkan penggantian. Ketika karet dilatasi sudah usang penggantiannya cukup dengan cara melepas karet dilatasi yang lama diganti dengan yang baru. Ini tidak bisa dilakukan ketika dilatasi menggunakan aspal, yang harus dibongkar lebih dahulu dan menuangkan aspal baru. 

Gambar: Rubber dilation

Pada jembatan, dilatasi jembatan dirancang untuk menanggung gerakan lalu lintas yang terus menerus antara struktur sambil mengakomodasi gerakan mengembang-menyusut, dan variasi suhu pada beton bertulang dan pratekan, serta struktur baja. Jadi, karet dilatasi pada jembatan atau jalan memiliki fungsi ganda, yaitu mengakomodasi kembang-susut beton, serta menyerap gaya getaran dan gerakan. Pada jembatan atau jalan layang, karet dilatasi juga ikut meredam suara berisik dari kendaraan yang lalu Lalang.

Gambar: Rubber sheet

Pada tembok, batu bata atau bata ringan, dilatasi mencegah keretakan dinding,  serta menghindari  bata menonjol dan pengelupasan lapisan dinding karena pemuaian. Pada dinding, karet dilatasi juga membantu memperkuat keluwesan dinding karena gerakan tanah akibat gempa atau dinamika di sekitarnya.

Gambar : Rubber Waterstop

Terdapat dua metode memasang elastomeric expansion joint pada jembatan dan jalan, yaitu sebelum pembetonan dan setelah pembetonan. Pada pemasangan sebelum pembetonan, dibuat celah beton dengan  sisi dilapisi pelat baja, kemudian karet dilatasi dipasang dalam celah tersebut. Selanjutnya dilakukan pembetonan. Untuk merapikan, bagian atas ditutup dengan lembar karet atau pelat baja.

Metode kedua, karet dilatasi dipasang setelah pembetonan. Setelah beton kering, kemudian dibuat celah dengan cara digali. Selanjutnya celah tersebut tepinya diberi pelat baja dan tengahnya diisi dengan dengan karet dilatasi. Biasanya, bagian atas celah dirapikan dengan ditutupi lembaran karet atau pelat baja.

Bagi Anda yang tertarik untuk mengetahui lebih jauh mengenai karet dilatasi untuk bangunan maupun perpipaan, silakan menghubungi PT Samudera Luas Paramacitra (SLP) di nomor +62 823 2018 9998.

Mengenal Karet Bantalan Jembatan

Salah satu bagian yang sangat penting dari struktur jembatan tetapi kurang tampak adalah bantalan karet atau rubber bearing yang disebut juga elastomer bearing.  Maklum, posisinya memang tersembunyi di antara badan jembatan dengan tiang penyangga. Bantalan ini berfungsi untuk meredam getaran dan menahan beban secara vertikal, horizontal maupun rotasi, dari kendaraan yang melintas di atasnya.  

Alat ini bekerja dengan cara menyerap dan membiaskan gaya beban melalui elastisitas dari elastomer (karet) agar tidak tertumpu pada satu titik. Bantalan ini  mentransfer gaya dari tekanan yang diterima oleh bangunan atas ke bangunan bawah atau mengurangi getaran di tanah ke bangunan atas. Meskipun umumnya digunakan pada jembatan, elastomer bearing juga digunakan pada beberapa bangunan gedung.  

Material utama elastomer bearing adalah karet, baik karet alami maupun karet sintesis, dilengkapi dengan pelat baja. Bantalan ini terdiri dari beberapa jenis dan memiliki spesifikasi yang berbeda-beda sesuai dengan tujuan penggunaannya.  Jembatan dengan panjang dan lebar yang berbeda, memerlukan jenis dan spesifikasi bantalan karet yang berbeda. Demikian pula, jembatan yang mendapat beban kendaraan berbeda, memerlukan jenis elastomer bearing sendiri-sendiri. Bahkan pemilihan jenis dan spesifikasi bantalan juga mempertimbangkan kondisi bangunan apakah di daerah rawan gempa, banjir, angin kencang dan sebagainya.

Elastomeric Bearing

Elastomeric Bearing atau dikenal juga sebagai bantalan elastomer ditandai dengan dominannya komponen karet pada strukturnya. Elastomeric Bearing secara umum memiliki tiga model  yaitu Bantalan Elastomer Polos (Plain Elastomeric Bearing) dan Bantalan Berlaminasi (Laminated Bearing).

Bantalan Elastomer Polos. Jenis bantalan ini berupa kompon (potongan) karet saja tanpa tambahan lapisan baja baik di permukaan ataupun lapisan dalamnya. Jenis bantalan ini digunakan pada jembatan tidak panjang dan tidak lebar, serta tidak menahan beban yang terlalu berat.

Caption: Bantalan elestomer polos

Bantalan Elastomer Laminasi. Bantalan elastomer berlaminasi terbuat dari karet berlapis-lapis dan diperkuat dengan pelat baja pada masing-masing lapisan. Bantalan ini memiliki kekakuan vertikal yang andal untuk mentransfer beban dari atas ke bawah maupun samping. Oleh karena itu, bantalan berlaminasi sering diaplikasikan pada jembatan baja maupun jembatan beton

Gambar: Elestomer berlaminasi

Pot Bearing

Pot bearing, juga dikenal sebagai pot rubber bearing, terbuat dari bantalan elastomer (karet) yang tertanam di dalam wadah pelat baja. Di antara elastomer dengan wadah pelat baja terdapat lapisan PTFE dan lembaran baja yang memungkinkan elastomer bergerak ketika mendapat tekanan beban dan getar dari segala arah (lihat Gambar Pot Bearing).  Elastomer pada pot bearing khusus dirancang untuk menanggung beban besar serta pergeseran horizontal dan rotasi besar yang pula. Jenis bantalan ini memiliki tiga model yaitu fixed pot bearing, guided pot bearing dan free sliding pot bearing.

Gambar: Pot bearing

Fixed Pot Bearing. Bantalan elastomer pada model fixed pot bearing dirancang tidak bergerak. Di bawah tekanan beban, bantalan elastomer mentransmisi gaya ke segala arah.

Guided Pot Bearing. Guided pot bearing dilengkapi dengan pengatur yang memungkinkan bantalan bergerak pada satu arah saja. Baja geser dan PTFE geser selanjutnya ikut mengurangi koefisien gesekan.  Guided pot bearing paling baik digunakan ketika beban horizontal relatif kecil (kurang dari 20% dari beban vertikal).

free sliding pot bearing. Free sliding pot bearing dapat bergerak ke segala arah. Penambahan PTFE dan lapisan baja geser antara piston dengan pelat baja memungkinkan bantalan ini bergerak horizontal ke segala arah.

Seismic Isolation Bearing

Seismic Isolation Bearing atau Bantalan Isolasi Seismik merupakan jenis bantalan jembatan yang dirancang khusus untuk meminimalkan dampak kekuatan  dan pergeseran saat terjadi gempa bumi. Secara umum, bantalan jembatan jenis ini dibagi menjadi dua model, High Damping Rubber Bearing (HDRB) dan Lead Rubber Bearing (LRB).

HDRB tersusun dari karet khusus yang memiliki kemampuan redaman sangat baik, diapit oleh pelat baja. HDRB memiliki kemampuan yang sangat baik dalam mengurangi getaran.

Gambar: High Damoing Rubber Bearing

LRB terbuat dari beberapa lapisan elastomer yang masing-masing diperkuat dengan lembaran baja. Pada bagian tengah atau pusat (core) terdapat timbal (lead). Elastomer pada LRB biasanya terbuat dari karet alam yang memiliki sifat fleksibilitas tinggi. Sedangkan lead terbuat dari 99.9% timbal murni.

Gambar : LBR

Apabila Anda ingin mengetahui lebih banyak berbagai hal mengenai Karet Bantalan Jembatan atau  rubber bearing bisa menghubungi PT Samudera Luas Paramacitra  di hotline (+62) 823 2018 9998 atau email ke admin@niri-rubber.com

Gambar: Bantalan Elastomer Polos

Memilih Rubber Airbag Yang Aman, Efektif, Dan Efisien

Rubber Marine Airbag, kini telah menjadi alat yang populer di perusahaan galangan kapal untuk mendaratkan atau meluncurkan kapal. Tetapi tidak sedikit galangan kapal merasa kesulitan ketika harus memilih airbag, terutama galangan kapal yang baru mulai menggunakan perangkat ini.  Sebenarnya pemilihan airbag peluncuran/ pendaratan  kapal tidaklah rumit.  Cukup pertimbangkan aspek-aspek berikut ini:

Diameter Airbag

Memilih diameter airbag yang tepat tidak hanya memungkinkan untuk meluncurkan/ mendaratkan kapal secara aman, tetapi juga menghemat biaya.  Dari segi diameter, secara umum terdapat lima standar diameter rubber airbag, yaitu 0, 8 meter, 1,0 meter, 1,2 meter,  1, 5 meter, 1,8 meter, dan 2,0 meter.  Prinsip pertama yang harus diingat dalam menentukan diameter adalah, diameter airbag harus lebih besar dari ketinggian balok penyangga di bawah kapal. Jika balok tingginya kurang dari 1 meter, dapat memilih airbag berdiameter 1,2 meter atau 1,5 meter. Jika balok tingginya sekitar 1,2 meter sampai 1,5 meter, Anda dapat memilih airbag berdiameter 1,8 m atau 2,0 meter.

Untuk menghemat, jika proyek peluncuran Anda sudah bisa dilakukan dengan airbag yang berdiameter kecil, Anda tidak perlu memilih airbag yang lebih besar.

Memilih panjang airbag

Secara umum, panjang airbag adalah dari 5 meter hingga 25 meter . Untuk memilih panjang airbag yang sesuai, harus mempertimbangkan pengaturan airbag saat peluncuran. Ada tiga cara untuk pengaturan airbag, yaitu:

  1. Susunan baris tunggal
  2. Susunan berselang-seling
  3. Susunan dua baris

Adapun panjang airbag yang digunakan, tergantung lebar kapal dan cara pengaturannya.

Ketika lebar kapal tidak lebih dari 25 meter dan memilih susunan baris tunggal, panjang airbag harus lebih panjang dari lebar kapal.

Ketika lebar kapal lebih besar dari 25 meter dan memilih susunan berselang-seling, dapat membagi lebar kapal dengan 2 dan ditambah 1-2 meter untuk menentukan panjang airbag.

Jika lebar kapal lebih besar dari panjang efektif gabungan dua airbag (25 m setiap airbag), atau untuk kapal khusus seperti, maka harus dipilih pengaturan dua baris.

Susunan airbag 1 (satu) baris
Susunan airbag selang seling
Susunan airb 2 (dua) garis

Bagaimana cara memilih jumlah lapisan airbag?

Airbag umumnya memiliki lapisan 4 lapisan (layer) hingga 12, tetapi yang paling umum adalah 6 lapis. Sebenarnya dalam menentukan daya angkat airbag  terhadap bobot kapal ada dua faktor yang diperhitungkan yaitu jumlah layer masing-masing airbag dan banyaknya airbag  yang digunakan. Galangan kapal bisa mengurangi kuantitas airbag dengan menggunakan airbag  yang lapisannya lebih banyak, atau menggunakan lebih banyak airbag yang memilikilapisan lebih sedikit. Pemilihan kompoisisi ini disesuaikan dengan lapangan.

Ketika lapangan yang digunakan untuk meluncurkan kapal terbatas  pertimbangkan untuk menggunakan airbag  yang memiliki memiliki lapisan lebih banyak. Airbag  yang memiliki lapisan lebih banyak memiliki daya topang jauh lebih kuat. Tetapi untuk lapangan yang cukup luas dan strukturnya rata (halus), sebaiknya gunakan jumlah airbag lebih banyak yang lapisannya lebih sedikit.

Menambah jumlah airbag lebih baik daripada membeli airbag dengan lapisan lebih banyak. Menggunakan airbag dengan benar lebih efektif daripada membeli airbag dengan lapisan yang lebih banyak.

Menentukan jumlah Airbag?

Bagaimana menentukan jumlah airbag untuk proyek peluncuran atau pengangkutan kapal tidaklah sulit. Menurut berat kapal yang diluncurkan, jumlah kantong udara yang dibutuhkan untuk operasi ini harus dihitung sesuai dengan Rumus:

Rumus menghitung jumlah lapisan airbag

Diketahui :

N, adalah jumlah airbag yang digunakan untuk peluncuran kapal.

K1, adalah koefisien safety factor, secara umum, K1 1,2;

Q, adalah berat kapal (ton);

g,  adalah percepatan gravitasi (m/s2), g = 9,8;

Cb, adalah koefisien blok kapal yang diluncurkan;

R, adalah daya dukung unit yang diizinkan dari airbag (kN/m);

Ld, adalah panjang kontak antara bagian bawah kapal dan badan kantong udara pada bagian tengah kapal (m).

Dari hasil perhitungan tersebut, galangan kapal harus menyiapkan dan meyediakan 2 sampai 4 airbag tambahan sebagai cadangan. Dalam praktik, jenis kapal yang berbeda memerlukan jumlah jumlah airbag yang berbeda sesuai dengan kondisi di lapangan. Dalam proyek peluncuran/ pendaratan kapal disarankan untuk berkonsultasi dengan teknisi profesional.

Apabila Anda ingin mengetahui lebih banyak berbagai hal mengenai Rubber Marine Airbag bisa menghubungi PT Samudera Luas Paramacitra  Hotline (+62) 823 2018 9998 atau email ke admin@niri-rubber.com.

Mengenal Karet Sebagai Bahan Baku Produk

Sudah bisa dipastikan, Anda mengenal karet. Karet telah digunakan selama ribuan tahun oleh manusia, diproduksi dalam berbagai variasi dengan karakteristik berbeda sesuai dengan kebutuhan. Karet telah menjadi bahan baku penting berbagai produk dari ban pesawat terbang, komponen perangkat militer, komponen mobil, bantalan jembatan, sarung tangan bedah, hingga penghapus dan karet gelang. Tetapi bagi Anda yang bekerja dengan produk menggunakan bahan baku karet perlu memahami lebih mendalam lagi mengenai karet. Karet memiliki banyak jenis yang masing-masing memiliki karakteristik dan hanya cocok untuk produk tertentu.

Sifat Karet

Tetapi, apa sebenarnya karet itu? Karet merupakan bahan elastis yang dihasilkan secara alami (disebut karet alam) atau secara sintetis melalui berbagai proses kimia (disebut karet sintetis atau karet buatan). Sesuai dengan jenisnya, karet memiliki sifat sendiri-sendiri.  Meskipun demikian, semua jenis karet memiliki sifat umum yang sama seperti elastis, tidak memuai saat dipanaskan, dan memiliki daya keausan yang tinggi.

Elastisitas.  Karet dengan mudah kembali ke bentuk normal setelah diregangkan (ditarik) atau dikompresi (ditekan). Karet dapat mulur dan mengkeret secara cepat.

Berkontraksi saat dipanaskan. Ketika terkena panas, hampir semua benda akan memuai, tetapi karet tidak, justru berkontraksi. Ketika terkena panas,  molekul karet yang sudah kusut menjadi lebih kusut dan terpelintir. Saat panas dihilangkan, molekul kembali ke keadaan istirahat dan karet mendapatkan kembali bentuk aslinya.

Berdaya tahan tinggi. Sebagian besar karet memiliki daya tahan tinggi terhadap sobekan, benturan, suhu rendah, dan air. Karet juga tidak mudah panas.  

Jenis Karet

Secara umum, karet dibagi menjadi dua jenis yaitu karet alam dan karet sintentis (karet buatan). Tetapi, di bawah kategori karet sintesis banyak ragamnya. Masing-masing jenis karet hanya cocok untuk bahan baku produk tertentu dengan perlakuan tertentu.

Karet alam

Karet alam berasal getah pohon karet (Hevea brasiliensis ) yang diolah menjadi lateks. Beberapa karakteristik utama karet alami adalah:

  • Memiliki daya elastis atau daya lenting yang sempurna.
  • Memiliki plastisitas yang baik sehingga pengolahannya mudah.
  • Mempunyai daya aus yang tinggi.
  • Tidak mudah panas.
  • Memiliki daya tahan yang tinggi terhadap keretakkan
  • Dapat dibentuk dengan panas yang rendah.
  • Memiliki daya lengket yang tinggi terhadap berbagai bahan.

Produk yang dibuat dari karet alam juga tahan terhadap sobekan, abrasi, gesekan, suhu ekstrim, dan gelombang air. Karet alam umumnya digunakan sebagai bahan pembuat marine fender, bearing pad, perekat, lantai dan atap, sarung tangan, insulasi, dan ban.

Karet Neoprene

Karet neoprene juga disebut chloroprene adalah salah satu jenis karet sintetis tertua. Dibandingkan dengan karet alam dan karet sintetis lainnya, neoprene memiliki daya tahan tinggi terhadap pembakaran, korosi, dan degradasi. Kualitas ini menjadikan karet neoprene sebagai bahan dasar yang sempurna untuk perekat dan pelapis tahan korosi. Kemampuannya untuk mempertahankan sifat mekanik yang baik pada rentang suhu yang luas, juga cocok untuk digunakan dalam gasket bertekanan tinggi, belt,  serta seal jendela dan pintu.

Karet Silikon

Karet silikon juga disebut sebagai  polysiloxanedikenal karena kelenturan, biokompatibilitas (mudah menyesuaikan dengan bentuk anggota tubuh manusia), dan ketahanannya terhadap suhu ekstrem, api, ozon, dan radiasi ultraviolet. Karet silikon tersedia dalam bentuk padat dan cair dalam berbagai warna. Sifatnya yang mudah menempel membuatnya ideal untuk produk yang menuntut biokompatibilitas seperti sarung tangan, masker pernapasan, implan, dan produk medis lainnya. Selain itu karet silikin juga sangat baik untuk produk yang tahan terhadap bahan kimia seperti item perawatan bayi, aplikator kosmetik, dan wadah serta instrumen makanan.

Karet Nitrile

Karet Nitrile juga dikenal sebagai karet Buna-N atau  nitrile butadiene rubber  (NBR) menunjukkan beberapa sifat mekanik dan kimia berupa ketahanan terhadap tekanan, panas, minyak dan gas, dan keausan. Sifat-sifat ini membuatnya cocok untuk produk gasket dan seal otomotif, cincin-O, dan selang mesin. Jenis karet ini juga digunakan untuk produk medis (misalnya, sarung tangan bedah) karena tidak memiliki protein alergi dari karet berbasis lateks.

Karet EPDM

Karet ethylene propylene diene monomer (EPDM) adalah karet sintetis yang menunjukkan daya tahan yang sangat baik, tahan terhadap kerusakan dan degradasi dari suhu dan kondisi cuaca ekstrem. Kualitas ini membuatnya cocok untuk digunakan di bagian dan produk luar ruangan, seperti pelapis atap, selang, dan seal. Sifatnya yang dapat meredam kebisingan juga membuat karet ini unggul digunakan sebagai komponen dalam sistem mobil.

Karet Styrene-Butadiene (SBR)

Karet stirena-butadiena (SBR) adalah memiliki ketahanan terhadap abrasi, alkohol, tekanan, dan air yang membuatnya ideal untuk digunakan dalam segel yang terintegrasi ke dalam sistem rem hidrolik.  SBR umumnya digunakan untuk bantalan, fender, gasket, dan sol sepatu.

Karet Butyl

Karet butyl juga dikenal sebagai isobutilena isoprena menawarkan keunggulan tingkat kekedapan gas yang tinggi. Kualitas ini, dikombinasikan dengan fleksibilitas bahan yang sangat baik, membuatnya cocok untuk pembuatan komponen kedap udara, seperti ban dalam, bola olahraga, dan seal. Sebagai senyawa cair, butyl juga sering digunakan sebagai aditif pada solar dan bahan bakar minyak bumi.

Karet Fluorosilicone 

Karet fluorosilicone juga disebut FVMQ sangat tahan terhadap suhu ekstrem (-730C hingga 1770 C), cairan transmisi, minyak bumi dan bahan bakar, pelumas sintetis, api, dan ozon. Sifat-sifat ini menjadikan karet fluorosilicone  sebagai bahan komponen yang ideal untuk sistem bahan bakar pesawat terbang dan aplikasi industri khusus lainnya.

Gambaran umum mengenai berbagai jenis karet dan sifat-sifatnya diharapkan dapat membantu Anda menentukan bahan mana yang paling cocok untuk aplikasi produk yang akan Anda gunakan. Apabila Anda membutuhkan informasi mengenai berbagai produk berbahan baku karet silakan menghubungi tim Samudera Luas Paramacitra di  hotline (+62) 823 2018 9998 atau email ke admin@niri-rubber.com.

Rubber Gasket

Pernahkah Anda berpikir mengapa benda cair atau gas yang mengalir melewati sambungan pipa tidak bocor? Padahal tekanan aliran di dalamnya bisa sangat kuat.  Bagaimana sambungan itu bisa sangat rapat padahal pipa dibuat dari benda padat yang kaku? Jawabanya terletak pada sebuah benda yang Bernama gasket.

Gasket adalah komponen elastis yang digunakan untuk menutup celah sangat kecil (mikroskopis) antara dua permukaan berpasangan atau sambungan. Gasket berfungsi sebagai penyegel (seal) untuk mencegah rembesan atau kebocoran. Tetapi perlu dipahami bahwa gasket tidak hanya penting dalam sambungan pipa. Gasket juga sangat bermanfaat untuk pemasangan silinder pada blok mesin otomotif. Bahkan pada celah pintu mobil juga perlu diberi gasket untuk mencegah masuknya air dan udara dari luar.

Jenis Material Gasket

Dari segi materialnya, gasket memiliki beragam jenis tergantung tujuan penggunannya. Secara garis besar kita bisa mengelompokan gasket metal dan nonmetal. Mari kita lihat aneka jenis tersebut.

  • Rubber Gasket.Rubber gasket terbuat dari bahan karet, baik karet alami maupun sintetis. Gasket jenis ini terutama unggul pada elastisitasnya sehingga sangat cocok untuk sambungan pipa dan rangkaian mesin.
  • Viton Gasket. Viton Gasket unggul terutama untuk penggunaan pada bagian yang bersentuhan langsung dengan beberapa zat kimia yang bersifat asam, minyak, dan cairan kental berkonsentrasi tinggi.
  • Graphite Gasket. Gasket jenis ini memiliki keunggulan utama, berupa ketahanan terhadap temperatur tinggi. Jenis graphite juga tahan terhadap berbagai jenis cairan kimia asam dan basa yang berkonsentrasi tinggi.
  • PTFE Material. Gasket PTFE atau juga dikenal dengan nama teflon gasket. Teflon gasket memiliki ketahanan yang baik terhadap berbagai bahan kimia seperti hidrogen peroksida.
  • Gasket EPDM Material.  Gasket berbahan EPDM ini memiliki ketahanan yang baik terhadap ozon, sinar UV, minyak dan berbagai jenis bahan kimia

Keunggulan Ruber Gasket

Gasket karet, dibandingkan dengan gasket logam dan non-logam lainnya, menawarkan beberapa manfaat karena rangkaian sifatnya yang unik.

1. Memiliki elastisitas tinggi

Karet, alami maupun  sintetis, termasuk dalam keluarga bahan yang disebut elastomer yang memiliki tingkat elastisitas sangat tinggi. Karena sifat ini, gasket karet mudah menyesuaikan diri dengan profil permukaan sehingga menghasilkan segel yang rapat. Pemasangan alat ini dapat mencegah kebocoran cairan yang memiliki beragam tekanan dalam suatu konstruksi. Kemampuan penyegelan karet (seal) tersebut karena sifat elastomernya..

2. Mudah dibentuk

Gasket karet diproduksi dengan menggabungkan karet mentah dan bahan tambahan dan membentuknya menjadi profil yang diinginkan. Seperti polimer lainnya, karet memiliki sifat ‘mampu bentuk’ dengan sangat baik. Dalam keadaan cair atau tidak diawetkan, apakah itu jenis termoset atau termoplastik, karet mengalir dengan mudah ke dalam cetakan. Setelah mengeras atau diawetkan, material dapat dengan mudah dipotong atau dikerjakan dengan dimensi yang hampir sempurna. Berbeda dengan jenis gasket logam dan non-logam lainnya, produksi gasket karet membutuhkan panas dan tekanan yang rendah.

3. Sifat penyegelan yang sangat baik

Karena struktur mikronya yang unik, karet dapat diregangkan atau dikompresi tanpa menimbulkan kerusakan atau degradasi sifat-sifatnya. Hal ini memungkinkan gasket karet membentuk segel yang efektif karena dapat dengan mudah berubah bentuk sesuai dengan permukaan bagian yang disegel. Gasket karet membentuk segel yang lebih efektif daripada beberapa gasket logam, yang mengandalkan permukaan beralur, bergerigi, atau bergelombang yang menciptakan efek labirin.

4.  Tahan terhadap ‘serangan’ kimia dan degradasi

Gasket karet, bila digunakan sesuai spesifikasinya, merupakan bahan yang sangat stabil. Mereka dapat menahan semua jenis serangan kimia dan lingkungan,  seperti asam, alkali, oksigen, ozon, air, panas, dan sinar UV. Tentu saja, ini semua tergantung pada jenis karet dan zat aditifnya. Gasket yang terbuat dari karet juga memiliki sifat tahan korosi yang sangat baik.

5. Dapat dibentuk menjadi profil khusus

Gasket karet, tidak seperti jenis logam, pada awalnya dapat diproduksi dalam bentuk lembaran. Lembaran ini dipasok ke perakit dan pengguna akhir untuk membuat gasket khusus untuk menyegel sambungan dan permukaan mekanis berbentuk unik. Perakit dapat membuat gasket khusus dengan proses pemesinan yang tersedia seperti pemotongan tangan, pemotongan cetakan, atau pemotongan laser. Pemotongan laser merupakan metode pabrikasi gasket paling presisi.

Aplikasi Industri Gasket Karet

Gasket karet digunakan di setiap industri. Rubber gasket  paling cocok untuk aplikasi umum yang melibatkan tekanan dan suhu rendah hingga sedang. Jenis gasket ini sangat unggul pada aplikasi yang melibatkan bahan kimia, air, dan hidrokarbon. Di bawah ini adalah beberapa aplikasi dari gasket karet.

1. Pipa air

Gasket karet menjadi bahan penyegelan paling populer untuk pipa saluran air. Penyebabnya karena gasket karet tahan terhadap korosi dan degradasi dari air, klorida, dan faktor biologis lainnya. Wajar jika pipa ledeng selalu menggunakan gasket karet.

2. Otomotif

Ada dua jenis gasket karet yang digunakan pada kendaraan otomotif. Pertama adalah yang digunakan dalam penyegelan tekanan rendah dan komponen pasif seperti pintu dan jendela. Di sini gasket karet dirancang untuk menyerap guncangan dan menutup interior dari masuknya air dan udara. Selain itu, gasket karet tahan minyak dan pelarut juga digunakan dalam saluran suplai bahan bakar dan saluran hidrolik.

Tipe kedua adalah yang digunakan pada bagian mesin dan transmisi. Tetapi dalam bagian mesin, biasanya menggunakan gasket dari serat mineral atau tulangan baja yang diresapi dalam matriks karet.

3. Dirgantara

Aplikasi kedirgantaraan gasket karet termasuk penyegelan pasokan bahan bakar, hidrolik, propelan, dan sistem oksidator. Sifat mekanik, kimia, dan termal mereka dirancang untuk memungkinkan mereka beroperasi di lingkungan yang lebih keras karena mereka harus terkena tekanan dan suhu operasi yang lebih tinggi.

4. Maritim

Gasket karet digunakan dalam peralatan kelautan dan kapal untuk menyegel palka, pintu, dan jendela. Industri maritim menggunakan gasket karet karena materialnya yang memiliki kemampuan sangat baik yang untuk menyerap guncangan dan benturan. Karet juga tahan terhadap korosi dari lingkungan dengan jumlah klorida yang tinggi. Karet juga merupakan bahan yang paling cocok untuk menyegel penutup, nozel, lubang, dan wadah padat untuk benda cair atau curah.

SLP Rubber Gasket

Apabila Anda membutuhkan rubber gasket  sebaiknya menghubungi Samudera Luas Paramacitra (SLP). Ada beberapa alasan untuk itu. Pertama, SLP meripakan produsen produk karet ternama yang telah pilihan tahun melayani industri agraria, matritim, infrastuktur, transportasi dan otomotif. Kedua, produk SLP  Rubber Gasket bermutu tinggi, terbukti dari penggunaan pada proyek-proyek terkemuka. Salah satunya digunakan pada pipa beton berdiameter 4 meter pada sodetan sungai Ciliwung menuju Banjir Kanal Timur, Jakarta. Ketiga, SLP Rubber Gasket, merupakan produk dalam negeri dengan TKDN tinggi. Sebagai produsen lokal, Samudera Luas Paramacitra, lebih mudah diajak berkonsultasi untuk menyediakan produk sesuai kebutuhan Anda.

Untuk pemesanan dan konsultasi mengenai SLP Rubber Gasket silahkan hubungi 0823 2018 9998

Kalender Digital 2022 PT Samudera Luas Paramacitra

Pneumatic Fender Untuk Pelindung Dermaga Berpasang Surut Extreem Maupun Operasi Lepas Pantai

Ada banyak ragam fender untuk melindungi dermaga dan kapal ukuran menengah saat bersandar. Salah satunya adalah pneumatic fender. Dibanding jenis fender lain, pneumatic fender tergolong unik baik dari model maupun penggunannya. Pneumatic fender berbentuk balon lonjong yang diisi angin sehingga disebut juga inflatable fender. Pada bagian luar fender ini diikatkan beberapa ban karet secara merata.

Umumnya kulit fender ini terdiri dari tiga lapisan (ply). Lapisan paling luar dibuat dari karet alam. Laporsan kedua berupa jalinan benang nilon. Sedangkan lapisan ketiga, laipsan paling dalam, dibuat dari karet alam.

Berebeda dengan tipe fender lain yang dipasang secara permanen di dermaga, inflatable fender dapat bersifat semi permanen. Fender dipasang dengan diikat menggunakan tali di dermaga, mengapung mengikuti naik turunnya permukaan air. Setelah selesai penggunaan, pneumatic fender dapat dilepas, dikempeskan dan disimpan. Selain itu, dapat digunakan untuk meredam benturan pada operasi kapal ke kapal di lepas pantai. Aplikasi penumeatic fender  sangat cocok untuk:

  • Dermaga di pelabuhan dengan pasang surut ekstrim
  • Operasi kapal ke kapal
  • Operasi bongkar muat-minyak dan gas (terutama Floating Storage And Regasification Unit)
  • Kapal yang berlabuh sementara

Beberapa keunggulan dari pneumatic fender, di antaranya adalah:

  • Penyerapan energi tinggi, gaya reaksi dan tekanan permukaan rendah;
  • Tidak ada penurunan penyerapan energi di bawah semua jenis pembebanan di area kontak apa pun;
  • Gaya reaksi rendah mencegah lambung, dermaga, rantai jangkar dari kerusakan yang disebabkan oleh benturan berulang;
  • Aplikasi mudah, cukup diikat di dermaga atau kapal pada operasi lepas pantai;
  • Mengapung, sehingga cocok untuk daerah dengan pasang tinggi dan surut ekstrim.

PT Samudera Luas Paramacitra (SLP) sangat berpengalaman memproduksi berbagai jenis fender, termasuk beragam pneumatic fender. Proses produksi yang mengadopsi standar mutu ISO 9000: 2015 dan uji para ahli di laboratorium, memastikan fender SLP bermutu tinggi.

Untuk pemesanan atau berkonsultasi silahkan hubungi hotline (+62) 823 2018 9998 atau email ke admin@niri-rubber.com

Elastomeric Bearing Pads for More Durable Bridges

Bridges have played a very important role in the Indonesian transport scene. Bridges connect places and aid the distribution of many products from different industries and places across the country. In some places, bridges become local icons and tourist attractions encouraging local business growth around them. The Suramadu Bridge in Surabaya, the Ampera Bridge in Palembang, the Siak Riau Bridge, the Barito Bridge in Barito Kuala are just to name a few.

The government has invested heavily in building bridges, However, since bridges need significant investment, durability remains a concern. Although a bridge’s strength is definitely determined by its iron and concrete structure, there is a small, often forgotten but very critical component which determines durability. The component is called elastomeric bearing pad.

Lamina

Elastomeric bearing pad is a rubber bridge bearing with steel plates inside to distribute load between the superstructure and the substructure of the bridge. This bearing pad maximizes the resistance of the bridge against the heavy pressure of vehicles passing on it.

We at PT Samudera Luas Paramacitra produce 2 (two) types of elastomeric bearing pads based on the materials used, namely natural rubber and chloroprene rubber. Elastomeric bearing pads are manufactured by order with specifications tailored to the needs of each project. To guarantee the quality, we run our elastomeric bearing pads through a rubber vulcanization and finished good laboratory and subject them to tensile, compression, exhaust, and shear tests. In addition, our elastomer bearing pads are also certified as follows:

  • ISO 9001:2015
  • SNI (Indonesian National Standard)
  • TKDN (Domestic Content/Component Level)

For further information, order or consultation, please call us on (+62) 823 2018 9998 or email us on admin@niri-rubber.com.

SLP D Fenders: Protecting Your Berthing Structures and Vessels

When it comes to marine safety, D fenders often come to mind. D fenders, as the name suggests, come in the shape of the letter D with a cavity in the middle. DD fenders have D-shaped cavity in the middle while DO fenders have O-shaped middle cavity.

D fenders can be produced as follows:

  1. 100% rubber (without steel plate), usually to be installed on vessels
  2. Using steel plates, usually to be installed on berthing structures.

Because of its compact shape, D fender is suitable for relatively small berthing structures, either wooden, concrete or floating docks serving small and medium-sized vessels. D fenders can also be mounted on harbor tugs, fishing boats, and barges as bumpers.

PT Samudera Luas Paramacitra’s (SLP) D fenders have been used in many ports and harbours throughout Indonesia. These rubber fenders are manufactured through a molding process under high pressure and temperature, resulting in a non-porous, homogeneous rubber compound for optimum performance. The advantages of the SLP D Fender are:

• Made of high quality raw materials for durability and quality

• Good energy absorption rate

• Good resistance to salt water

• Easy to install and maintain or replace

• Available in various sizes

For further information, order or consultation, please call hotline (+62) 823 2018 9998 or email us on admin@niri-rubber.com

Rubber Airbags Enhance Shipbuilding/Shipyard Industry

When we talk about Indonesia’s strategy to be the world’s maritime axis, there are some we need to consider. Apart from the readiness of marine infrastructure and services, we also need to take into account the number of vessels (legally) operating in our waters. 

Rubber Airbag Produksi PT Samudera Luas Paramacitra

Now this number greatly depends on the capacity of the shipbuilding industry. Shipbuilding companies play an important role in building, maintaining, and repairing ships. According to the Indonesian Ministry of Industry, Indonesia is currently home to around 250 shipbuilding companies. However, only 20% of Indonesian ports have shipyard facilities. High investing and operating costs are the most substantial impediments to maintaining these facilities. 

In general, shipyards have a docking facility, namely a graving dock, in the shape of a pool. This pool has to be wide and deep enough to accommodate the biggest vessels that may come into the dock and has a valve which opens to the sea. When a vessel is in construction, the valve is closed and water is pumped out to create a dry space for shipbuilding activities to take place.  For repair or maintenance works, once the ship is in the pool, the valve is closed and water is pumped out. When the vessel is ready for launching (or relaunching), the valve is opened to allow water in. When the water in the pool has reached the same level as the water outside the pool, the valve is opened to launch the ship.

Some shipyards opt for ship railway and slipway, which is a rail to tow vessels to and from the sea. Building a slipway cost much less than building a graving dock. However, slipways are limited by the strength and capacity of the rail itself. Also, because the rail is fixed, moving the vessel around once it is on land will be difficult. Towed ships can also damage the rail and the rail requires costly maintenance, especially for the parts submerged in water.

In the 1980s, rubber airbags were invented to overcome the weaknesses of both the graving dock system, ship railway and slipwayRubber airbags are tubular airbags with a cone at each end. This airbag is composed of two main layers. The inner layer is made of interwoven synthetic nylon thread covered with synthetic cord reinforced rubber. The outer layer is made of modified natural rubber to make it resistant to friction and pressure. 

A rubber airbag is divided into three parts. The first part is the body, which is the middle part of the tube. The second part is the head, which is the cone at each end. The third part is the mouth, namely the metallic tip of the cone, that serves as air inlet and outlet.

The type of rubber airbag can be seen from the size and model. In general, there are three types of rubber airbags based on their diameters: 1.5 meters, 1.8 meters and 2 meters. However, there are also rubber airbags with diameters of 0.8 meters, 1 meter, 1.2 meters and more than 2 meters. The length of this product is adjusted to the needs of the customers.

Rubber airbags can also be categorized based on the number nylon thread layers in them. They usually consist of three to six layers of nylon thread. However, some airbags can have more than that even though they do not usually exceed 10 layers. 

How do they work?

To pull the ship ashore, a rubber airbag is placed at the bottom of the ship’s front end. The ship is then pulled using a winch and as the ship moves ashore, another rubber airbag is placed in front the one already placed and so on until the ship reaches the repair or maintenance workshop. A supporting concrete block, called stow or keel block, is then placed under the ship. The rubber airbags are then deflated to store. When the ship is ready to relaunch, the rubber airbags are laid out, filled with air then the stow blocks are taken, and the ship is pushed to the sea. 

Rubber airbags can be laid out in several arrangements:

  1. Linear Arrangement Method

For ships with width not exceeding the body of airbags, the airbags can be laid out in linear arrangement. The airbags are installed in a row from the front to the back of the ship. 


2. Staggered Arrangement Method

For ships with width exceeding the body of airbags, but does not exceed the length of two rubber airbags laid end to end, the staggered method can be applied. The airbags are laid out in two alternating rows / zigzag (see picture).

3. Two Line Arrangement Method

For the ship with width exceeding the effective length of two rubber airbags laid end to end, the two-line method can be used. For ships with flat hull like barges, the width of the hull may exceed the length of two airbags.

With this method the rubber airbags are installed in two parallel rows (see picture) with at least 20 cm between the ends of the airbags.

To be able to use rubber airbags safely, shipyards must ensure that the launch site is flat, solid and free of sharp objects. Sharp objects such as pieces of iron or rocks can tear the rubber airbags. While the tear may be small at first, once you add the weight of a ship, the damage will be significant. However, airbags can still be used on sandy and sloping beaches or riverbanks. If airbags are to be used on floored surfaces, concrete flooring will be the best for optimum performance.

What are the advantages of the rubber airbag system ?

  1. Shipyards do not need to invest a lot to build graving docks and/or slipways. Flattening and hardening the launch site will be adequate.  
  2. Rubber airbag maintenance is much cheaper than graving dock or slipway maintenance.
  3. Rubber airbags can be moved from one place to another quite easily.
  4. Without graving docks and slipways, a shipyard has a flexible capacity and can use the entire area of a sloping shoreline as a large manufacturing and docking facility.  

Indonesian shipyards have been importing rubber airbags from abroad, especially China. However since 2019, PT Samudera Luas Paramacitra (SLP) in collaboration with BPPT, has successfully manufactured Indonesia’s first rubber airbags. It can be expected that the Indonesian shipbuilding industry will be more committed, competitive, bigger and stronger. 

For consultation regarding the SLP airbags, please contact the hotline (+62) 823 2018 9998 or email us on admin@niri-rubber.com .